<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments for Democratic Conflict Governance Institute</title>
	<atom:link href="http://socialpeace.wordpress.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://socialpeace.wordpress.com</link>
	<description>Democracy for Peace!</description>
	<lastBuildDate>Fri, 15 May 2009 04:35:25 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Comment on Resensi Buku by socialpeace</title>
		<link>http://socialpeace.wordpress.com/2009/03/15/resensi-buku/#comment-52</link>
		<dc:creator>socialpeace</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 04:35:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://socialpeace.wordpress.com/?p=48#comment-52</guid>
		<description>terimakasih apresiasinya. sayang sekali penerbit belum mempunyai file.pdf. sementara masih versi buku yang bisa ditemukan di gramedia. salam dan sukses selalu.

(ranang aji).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>terimakasih apresiasinya. sayang sekali penerbit belum mempunyai file.pdf. sementara masih versi buku yang bisa ditemukan di gramedia. salam dan sukses selalu.</p>
<p>(ranang aji).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Resensi Buku by AndyDoanx2525</title>
		<link>http://socialpeace.wordpress.com/2009/03/15/resensi-buku/#comment-51</link>
		<dc:creator>AndyDoanx2525</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 May 2009 09:54:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://socialpeace.wordpress.com/?p=48#comment-51</guid>
		<description>andydoanx : kalo ada buku nya yg berupa file .pdf bisa di confirm ke saya...

kebetulan saya concern dengan buku yang bertemakan konflik sosial.
 Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>andydoanx : kalo ada buku nya yg berupa file .pdf bisa di confirm ke saya&#8230;</p>
<p>kebetulan saya concern dengan buku yang bertemakan konflik sosial.<br />
 Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Pemimpin Muda dan Rekrutmen Politik by Rudi Rohi (Dosen JIP FISIPOL UNDANA)</title>
		<link>http://socialpeace.wordpress.com/2008/01/05/pemimpin-muda-dan-rekrutmen-politik/#comment-50</link>
		<dc:creator>Rudi Rohi (Dosen JIP FISIPOL UNDANA)</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 15:46:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://socialpeace.wordpress.com/2008/01/05/pemimpin-muda-dan-rekrutmen-politik/#comment-50</guid>
		<description>Tulisan Dimas Oky Nugroho ini sangat menarik. Setidaknya ada 2 pertanyaan besar yang kemudian muncul setelah membacanya - disamping menyaksikan kenyataan bangsa ini.
Pertama, sudahkah para kaum muda mempersiapkan mental &amp; senjata ampuh untuk mendobrak oligarki kekuasaan yang terbangun sistematis sejak Orde Baru? Oligarki kekuasaan di tanah air sudah mengakar kuat bahkan telah mendapatkan legitimasinya secara domestik maupun internasional, mulai dari ranah politik, ekonomi sampai dengan kultural. Kenyataan kaum muda yang lahir pada era reformasi menjelaskan bahwa sebagian besar mereka telah terjinakan oleh oligarki kekuasaan yang mencengkeram kuat di balik panggung politik Indonesia - domestik maupun internasional. Hanya sedikit dari kaum reformis tersebut yang masih tersisa dan itupun terpinggirkan secara politik dan ekonomi sehingga mereka kembali ke basis dan memperjuangkan penguatan civil society yang merupakan jalan panjang menuju perubahan.
Kedua, apakah sekarang kita sedang berada pada anti klimaks yang merupakan kebalikan dari apa yang dilukiskan Takashi Shiraishi tentang Zaman Bergerak? Perlu diingat bahwa ketika Nusantara ingin menjadi negara, ada 2 hal yang harus dimiliki yaitu ber-bahasa satu dan ber-bangsa satu, karena itulah para kaum muda zaman kemerdekaan sadar betul dan menerjemahkannya dalam Sumpah Pemuda. Ironis, cita-cita ber-bangsa satu belum juga selesai prosesnya menuju garis finish di mana legitimasinya tak tergoyahkan. Cobaan terhadap cita ini terus datang silih berganti, bahkan Papua &amp; Aceh harus mendapat Otonomi Khusus dulu baru mau tetap menjadi bagian dari bangsa ini. Kegalauan ini semakin lengkap dengan keberadaan bahasa satu yang sekarang mulai tergerus dengan dimasukannya bahasa bangsa lain misalnya bahasa Arab &amp; Inggris menjadi bahasa baku.
Kenyataan di atas menjadi pelengkap tertatihnya perjalanan demokrasi di tanah air ketika berbagai prasayata berhasilnya demokrasi tidak dimiliki oleh Indonesia. Kalaupun ada maka masih banyak yang tidak mau menjadikannya prasyarat. Huntinhton mengatakan pendidikan, Lipset memprasyaratkan ekonomi, sedangkan Diamond menemukan kultur sebagai alasan keberhasilan demokrasi. Berbagai prasyarat ini tidak dipunyai oleh bangsa ini, tingkat pendidkikan rendah, kemiskinan &amp; ketimpangan merajlela, dan kultur komunalisme, klientilisme, serta patrimonialisme. Sedangkan apa yang dikatakan Rostow bahwa Nasionalisme yang justru menjadi prasyarat penting bagi demkrasi. Namun tak bisa dipungkiri jika transisi demokrasi masih ragu dengan Nasionalisme sebagai nilai kolektif yang harus membalutnya.
Jika memang pilihan nilai tidak lagi jatuh pada nasionalisme seperti pada Zaman Bergerak atau belum ada nilai yang bisa dijadikan pegangan kolektif demokrasi bangsa ini maka bisa dipastikan anti klimaks sedang melanda. Dan bila mental &amp; senjata ampuh untuk meluruhkan oligarki masih belum dimiliki oleh kaum muda sekarang, sebaiknya jangan tergesa-gesa untuk masuk ke dalam kubangan kekuasaan oligarki tetapi mulailah penguatan basis-basis demokrasi dari diri sendiri agar jangan justru terjinakan ketika sudah berada di dalam lingkaran kekuasaan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan Dimas Oky Nugroho ini sangat menarik. Setidaknya ada 2 pertanyaan besar yang kemudian muncul setelah membacanya &#8211; disamping menyaksikan kenyataan bangsa ini.<br />
Pertama, sudahkah para kaum muda mempersiapkan mental &amp; senjata ampuh untuk mendobrak oligarki kekuasaan yang terbangun sistematis sejak Orde Baru? Oligarki kekuasaan di tanah air sudah mengakar kuat bahkan telah mendapatkan legitimasinya secara domestik maupun internasional, mulai dari ranah politik, ekonomi sampai dengan kultural. Kenyataan kaum muda yang lahir pada era reformasi menjelaskan bahwa sebagian besar mereka telah terjinakan oleh oligarki kekuasaan yang mencengkeram kuat di balik panggung politik Indonesia &#8211; domestik maupun internasional. Hanya sedikit dari kaum reformis tersebut yang masih tersisa dan itupun terpinggirkan secara politik dan ekonomi sehingga mereka kembali ke basis dan memperjuangkan penguatan civil society yang merupakan jalan panjang menuju perubahan.<br />
Kedua, apakah sekarang kita sedang berada pada anti klimaks yang merupakan kebalikan dari apa yang dilukiskan Takashi Shiraishi tentang Zaman Bergerak? Perlu diingat bahwa ketika Nusantara ingin menjadi negara, ada 2 hal yang harus dimiliki yaitu ber-bahasa satu dan ber-bangsa satu, karena itulah para kaum muda zaman kemerdekaan sadar betul dan menerjemahkannya dalam Sumpah Pemuda. Ironis, cita-cita ber-bangsa satu belum juga selesai prosesnya menuju garis finish di mana legitimasinya tak tergoyahkan. Cobaan terhadap cita ini terus datang silih berganti, bahkan Papua &amp; Aceh harus mendapat Otonomi Khusus dulu baru mau tetap menjadi bagian dari bangsa ini. Kegalauan ini semakin lengkap dengan keberadaan bahasa satu yang sekarang mulai tergerus dengan dimasukannya bahasa bangsa lain misalnya bahasa Arab &amp; Inggris menjadi bahasa baku.<br />
Kenyataan di atas menjadi pelengkap tertatihnya perjalanan demokrasi di tanah air ketika berbagai prasayata berhasilnya demokrasi tidak dimiliki oleh Indonesia. Kalaupun ada maka masih banyak yang tidak mau menjadikannya prasyarat. Huntinhton mengatakan pendidikan, Lipset memprasyaratkan ekonomi, sedangkan Diamond menemukan kultur sebagai alasan keberhasilan demokrasi. Berbagai prasyarat ini tidak dipunyai oleh bangsa ini, tingkat pendidkikan rendah, kemiskinan &amp; ketimpangan merajlela, dan kultur komunalisme, klientilisme, serta patrimonialisme. Sedangkan apa yang dikatakan Rostow bahwa Nasionalisme yang justru menjadi prasyarat penting bagi demkrasi. Namun tak bisa dipungkiri jika transisi demokrasi masih ragu dengan Nasionalisme sebagai nilai kolektif yang harus membalutnya.<br />
Jika memang pilihan nilai tidak lagi jatuh pada nasionalisme seperti pada Zaman Bergerak atau belum ada nilai yang bisa dijadikan pegangan kolektif demokrasi bangsa ini maka bisa dipastikan anti klimaks sedang melanda. Dan bila mental &amp; senjata ampuh untuk meluruhkan oligarki masih belum dimiliki oleh kaum muda sekarang, sebaiknya jangan tergesa-gesa untuk masuk ke dalam kubangan kekuasaan oligarki tetapi mulailah penguatan basis-basis demokrasi dari diri sendiri agar jangan justru terjinakan ketika sudah berada di dalam lingkaran kekuasaan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Krisis Kepedulian dan Pengorbanan by socialpeace</title>
		<link>http://socialpeace.wordpress.com/2007/11/10/krisis-kepedulian-dan-pengorbanan/#comment-48</link>
		<dc:creator>socialpeace</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 12:13:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://socialpeace.wordpress.com/2007/11/10/krisis-kepedulian-dan-pengorbanan/#comment-48</guid>
		<description>Pa kabar bung Herman? Lama sekali...terlalu lama bung Herman meninggalkan jejak sunyi. Aku setuju tentang catatan itu. krisis berlaku pada setiap lapis struktur sosial. Namun, kita perlu sadar bahwa elite kekuasaan memiliki sumber daya yang lebih besar untuk memobilisasi perubahan dan ketidakadilan dibandingkan rakyat biasa. Untuk itu kita perlu sering membaca puisi untuk mereka dengan nada tinggi dan kritis. Tentu saja isinya konstruktif.

salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pa kabar bung Herman? Lama sekali&#8230;terlalu lama bung Herman meninggalkan jejak sunyi. Aku setuju tentang catatan itu. krisis berlaku pada setiap lapis struktur sosial. Namun, kita perlu sadar bahwa elite kekuasaan memiliki sumber daya yang lebih besar untuk memobilisasi perubahan dan ketidakadilan dibandingkan rakyat biasa. Untuk itu kita perlu sering membaca puisi untuk mereka dengan nada tinggi dan kritis. Tentu saja isinya konstruktif.</p>
<p>salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Krisis Kepedulian dan Pengorbanan by Herman</title>
		<link>http://socialpeace.wordpress.com/2007/11/10/krisis-kepedulian-dan-pengorbanan/#comment-47</link>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 04:12:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://socialpeace.wordpress.com/2007/11/10/krisis-kepedulian-dan-pengorbanan/#comment-47</guid>
		<description>Kenapakah kita sering memfokuskan analisis pada perilaku elit? Sementara di kalangan masyarakat bawah pun kepedulian dan pengorbanan itu sudah mulai tergerus sedikit demi sedikit namun pasti terjadi. 

Bagi saya, krisi semacam ini terjadi di level atas dan bawah. Sama saja. Dan ini merupakan efek dari nilai sosial masyarakat kita yang sudah cemar oleh penghargaan yang lebih pada kepemilikan materi ketimbang keluhuran budi. Akibatnya, orang berlomba-lomba mendapatkan materi, entah dengan cara apapun akan dilakoni, di masyarakat biasa ataupun di kalangan elit. 

Inilah globalisasi yang semakin menggerus nilai-nilai kemanusiaan kita yang dulu kita angga luhur, adiluhung, tinggi. 

Bagaimana pendapat Anda, Novri? 

(Lama sekali kita tidak bertemu ya, sudah jadi pengamat pula rupanya kau... :) )</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kenapakah kita sering memfokuskan analisis pada perilaku elit? Sementara di kalangan masyarakat bawah pun kepedulian dan pengorbanan itu sudah mulai tergerus sedikit demi sedikit namun pasti terjadi. </p>
<p>Bagi saya, krisi semacam ini terjadi di level atas dan bawah. Sama saja. Dan ini merupakan efek dari nilai sosial masyarakat kita yang sudah cemar oleh penghargaan yang lebih pada kepemilikan materi ketimbang keluhuran budi. Akibatnya, orang berlomba-lomba mendapatkan materi, entah dengan cara apapun akan dilakoni, di masyarakat biasa ataupun di kalangan elit. </p>
<p>Inilah globalisasi yang semakin menggerus nilai-nilai kemanusiaan kita yang dulu kita angga luhur, adiluhung, tinggi. </p>
<p>Bagaimana pendapat Anda, Novri? </p>
<p>(Lama sekali kita tidak bertemu ya, sudah jadi pengamat pula rupanya kau&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  )</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on About SocialPeace by putra</title>
		<link>http://socialpeace.wordpress.com/about/#comment-41</link>
		<dc:creator>putra</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Sep 2008 11:02:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-41</guid>
		<description>Blog yang bagus. Tulisan &quot;Airlangga Pribadi&quot; yang terbaru (menurut penulisnya) kami muat dalam Jurnal GeoFilsafat Kintamani.

Terimakasih.
http://www.jarkom.biz</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Blog yang bagus. Tulisan &#8220;Airlangga Pribadi&#8221; yang terbaru (menurut penulisnya) kami muat dalam Jurnal GeoFilsafat Kintamani.</p>
<p>Terimakasih.<br />
<a href="http://www.jarkom.biz" rel="nofollow">http://www.jarkom.biz</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on About SocialPeace by socialpeace</title>
		<link>http://socialpeace.wordpress.com/about/#comment-17</link>
		<dc:creator>socialpeace</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Mar 2008 04:37:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-17</guid>
		<description>wellcome sari. SINTESA was the first home of Novri. you can contact some of our colleagues at FISIP UNAIR such as Airlangga Pribadi, Dimas Oky, Joko Susanto. 

moderator SP</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wellcome sari. SINTESA was the first home of Novri. you can contact some of our colleagues at FISIP UNAIR such as Airlangga Pribadi, Dimas Oky, Joko Susanto. </p>
<p>moderator SP</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Cangkrukan (sit around building humanity feeling) by sari</title>
		<link>http://socialpeace.wordpress.com/2007/11/10/hello-world/#comment-16</link>
		<dc:creator>sari</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Mar 2008 03:38:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-16</guid>
		<description>cangkrukan hanya sarana untuk berbagi, memang klo mengacu dari bahasa istilah cangkrukan menjadi bias lebih ke sub urban. but,by cangkrukan terbukti bisa menjadi embrio dari social movement.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>cangkrukan hanya sarana untuk berbagi, memang klo mengacu dari bahasa istilah cangkrukan menjadi bias lebih ke sub urban. but,by cangkrukan terbukti bisa menjadi embrio dari social movement.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on About SocialPeace by sari</title>
		<link>http://socialpeace.wordpress.com/about/#comment-15</link>
		<dc:creator>sari</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Mar 2008 03:35:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-15</guid>
		<description>hi, saya sosiologi UGM 99, now kerja and live in Surabaya, may we can share our knowledge especially sociology in conflict. In surabaya I don&#039;t have group discussion like I was live in Yogyakarta. especially like &quot;SINTESA&quot;.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hi, saya sosiologi UGM 99, now kerja and live in Surabaya, may we can share our knowledge especially sociology in conflict. In surabaya I don&#8217;t have group discussion like I was live in Yogyakarta. especially like &#8220;SINTESA&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Masyarakat Sipil dan Konsolidasi Demokrasi Daerah by ruangasa</title>
		<link>http://socialpeace.wordpress.com/2007/11/10/masyarakat-sipil-dan-konsolidasi-demokrasi-daerah/#comment-14</link>
		<dc:creator>ruangasa</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 21:01:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://socialpeace.wordpress.com/2007/11/10/masyarakat-sipil-dan-konsolidasi-demokrasi-daerah/#comment-14</guid>
		<description>Selamat karena anda sahabat manusia. Silah kunjungi blog saya atas Seri Artikel Orkestrasi Pergerakan untuk Indonesia Baru. Salam hangat!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat karena anda sahabat manusia. Silah kunjungi blog saya atas Seri Artikel Orkestrasi Pergerakan untuk Indonesia Baru. Salam hangat!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
